Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Saturday, 25 April 2015

Makalah KALIMAT EFEKTIF

PEMBAHASAN

A.   PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif merupakan kalimat yang mempunyai kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan pada fikiran pembaca dan pendengar seperti apa yang ada pada pikiran penulis atau pembicara. Sebuah kalimat tergolong efektif jika mempunyai ciri-ciri kesepadanan struktur, keparalelan, kehematan, kecermatan, kepaduan, kevariasian dan kelogisan.

1.    Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat memiliki beberapa ciri sperti tercantum dibawah ini :
a.    Kalimat itu mempunyai subyek dan predikat yang jelas.
Ketidak jelasan subyek atau predikat  suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif kejelasan subyek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya didepan subyek.
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (salah)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (benar)

b.    Tidak terdapat subyek yang ganda
            Contoh :
1)    Penyusunan laporan itu saya dibantu para dosen
2)    Soal itu saya kurang jelas.



Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
1)            Dalam penyusunan laporan itu, saya dibantu oleh para dosen
2)            Soal itu bagi saya kurang jelas.

c.    Kata penghubung antar kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh :
1)    kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
2)    Kakaknya membeli sepeda motor honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor suzuki.

Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan 2 cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung kalimat menjadi ungkapan penghubung antar kalimat, sebagi berikut :

1)    Kami  datang agak terlambat. Oleh karena itu , kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
2)    Kakaknya membeli sepeda motor honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor suzuki.

d.    Predikat kalimat tidak didahului oleh kata “yang".
Contoh:
1)    Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu.
2)    Sekolah kami yang terletak didepan bioskop gunting

Pebaikannya adalah sebagai berikut.

1)    Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu
2)    Sekolah kami terletak didepan bioskop gunting
2.    Keparalelan

Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk prtama menggunakan nomina,bentuk kedua dan seterusnya  juga harus menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba , bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh :

a.    Harga minyak dibekukan kenaikan secara luas
b.    Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

Kalimat a tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terjadi dari bentuk yang berbeda, yaitu di bekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat di perbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.

a.    Harga minyak di bekukan atau dinaikan secara luas.

Kalimat b tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang, pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal, sebagai berikut.

b.    tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

3.    Kehematan
Unsur penting lain yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kalimat efektif ialah kehematan. Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata.kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Unsur-unsur apa saja yang harus diperhatikan akan dibicarakan satu persatu.

a.    Pengulangan subyek kalimat
Penulis kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subyek dalam satu kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas. Oleh karena itu,pengulangan bagian kalimat yang demikian tidak diperlukan.
Contoh :
1)    Pemuda itu segera mengubah rencananya setelah dia bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.
2)    Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan

Kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi:

1)  Pemuda itu segera mengubah renca setelah bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.
2)  Hadirin serentak berdiri setelahmengetahui mempelai memasuki ruangan.

b.    Hiponimi
Dalam bahasa ada kata yang merupakan bawahan makna kata atau ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung makna dasar kelompok makna kaya bersangkutan. Kata merah sudah mengandung makna kelompok warna. Kata desember sudah mengandung makna bulan.
Contoh :
1)    Presiden Soeharto menghadiri Rapim ABRI hari senin lalu
2)    Rumah penduduk di kota besar terang-benderang oleh cahaya lampu neon
Kalimat tersebut dapat diperbaiki sebagai berikut :
1)  Presiden Soeharto menhadiri Rapim ABRI senin lalu
(kata hari dihilangkan)
2)  Rumah penduduk di kota besar terang-benderang cahaya neon.
(kata lampu dihilangkan)

c.    Pemakaian kata “dari” dan “daripada”
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata depan “dari” dan “daripada”, selain ke dan di. Penggunaan dari dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menunjukkan arah (tempat) asal (asal-usul).

4.    Kecermatan
Yang dimaksud kecermatan adalah cermat dan tepat dalam memilih kata sehingga kalimat yang dihasilkan tidak rancu. Dengan perkataan lain  kalimat yang cermat adalah kalimat yang tidak menimbulkan tafsiran ganda. Perhatikan cintoh-contoh ini :
a.    Lima dosen PTS yang terkenal itu menerima piagam penghargaan.
b.    Pedagang sebuah koran yang besar itu tiba-tiba meninggal dunia.
Kedua contoh di atas tidak efektif karena bermakna ganda. Ungkapan, yang terkenal pada contoh “a” itu apakah yang menerangkan dosen atau PTS. Begitu juga ungkapan yang besar pada contoh “b” apakah menerangkan pedagang ataukah sebuah koran.
Kalimat “a” dan “b” dapat diefektifkan jika ditambah preposisi dari di antara dosen dan PTS serta di antara pedagang dan sebuah koran. Akan tetapi, jika dari diletakkan sebelum PTS dan sebuah koran, dan ungkapan yang terkenal dan yang besar diletakkan langsung dengan setelah dosen dan pedagang, maka ungkapan tersebut menerangkan kedua subjek. Dengan demikian, kedua kalimat di atas dapat diperbaiki sebagai berikut.
Kalimat efektif :
a.      Lima dosen dari PTS yang terkenal itu menerima piagam penghargaan.
b.      Pedagang dari sebuah koran yang besar itu tiba-tiba meninggal dunia.
Menerangkan kedua subjek
a. Lima dosen yang terkenal dari PTS itu menerima piagam penghargaan.
b. Pedagang yang besar dari sebuah koran itu tiba-tiba meninggal dunia.
5.    Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam sebuah kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.
a.    Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Oleh karena itu kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
b.    Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib pada kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh :
1)    Surat itu saya sudah baca.
2)    Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangan.

           
Kalimat diatas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk :
1)    Surat itu sudah saya baca.
2)    Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.

c.    Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja atau objek penderita.
Perhatikan kalimat ini.
1)    Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
2)    Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya :
1)    Mereka membicarakan kehendak rakyat.
2)    Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.

6.    Kevariasian
Menurut Fuad, dkk. (2009: 60-64) sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat memuat pembaca terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menulis. Menulis memerlukan ketekunan, latihan, dan pengalaman.
a.   Cara Memulai Kalimat
Ada beberapa kemungkinan dalam cara memulai kalimat untuk mencapai efektivitas, yaitu variasi pada pembukaan kalimat. Pada umumnya kalimat dapat dimulai dengan subjek, predikat, frasa dan kata modalitas.
1)    Subjek pada Awal Kalimat
Kita dapat lihat dari pola dasar kalimat bahasa Indonesia, subjek selalu diletakkan pada awal kalimat. Dalam sebuah komposisi ataupun sebuah paragraf perlu dipakai variasi kalimat seperti yang dimaksudkan untuk menghindari suasana kaku.

2)    Predikat pada Awal Kalimat
Kalimat yang diawali subjek biasanya diikuti predikat, kadang-kadang dilengkapi dengan objek dan keterangan. Susunan kalimat yang demikian ada yang menyebutkan dengan kalimat susunan biasa, sebuah kalimat dapat dimulai dengan predikat. Kalimat seperti ini disebut inversi atau kalimat susunan balik.

3)    Kata Modal pada Awal Kalimat
Dalam sebuah kalimat kata modal dapat merubah arti kalimat secara keseluruhan. Dengan mempergunakan kata modal kita dapat menyatakan bermacam-macam sikap. Untuk menyatakan kepastian dapat menggunakan kata : pasti, pernah, tentu dan sebagainnya.
Untuk menyatakan ketidakpastian atau keragu-raguan dapat dipergunakan kata : mungkin, barangkali, kira-kira, rasanya, dan sebagainnya.
Untuk menyatakan kesungguhan dapat dipergunakan kata-kata : sebenarnya, sesungguhnya, sebetulnya, benar, sungguh, dan sebagainnya. Modal dapat diletakkan di awal ataupun di akhir kalimat.

4)    Frase pada Awal Kalimat
Untuk keperluan variasi kalimat, frasa-frasa ini tidak selalu diletakkan pada awal kalimat, tetapi bisa ditempatkan pada posisi tengah maupun akhir.

b.    Panjang Pendek Kalimat
Kalimat pendek tidak selalu mencerminkan kalimat yang baik atau efektif. Sebaliknya kalimat yang panjang tidak selalu rumit atau tidak efektif.

c.    Jenis Kalimat
Dalam bahasa Indonesia ada tiga macam jenis kailimat. Ketiga macam jenis kalimat itu adalah kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah atau kalimat pinta.

d.    Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
Dari segi struktur kalimat selain pola inversi, panjang pendek kalimat, kalimat majemuk dan kalimat sederhana dapat dijadikan variasi kalimat, maka pola kalimat aktif dan pasif pun dapat membuat tulisan kita lebih bervariasi.

e.    Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
Dalam kalimat langsung dapat dibangun variasi kalimat. Kadang-kadang pendapat atau pikiran seseorang akan terasa lebih jelas dan hidup jika dinyatakan dalam bentuk kalimat langsung daripada kalimat tidak langsung.

7.    Kelogisan
Yang dimaksud kelogisan adalah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kaidah EYD.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini.
a.    Semua lulusan SMU Harapan Bangsa mengikuti UMPTN, kecuali inem, sastro dan bejo.
b.    Acara berikutnya adalah sambutan Rektor STAIN. Waktu dan tempat saya persilahkan.
Kedua contoh di atas tidak efektif. Contoh “a” tidak efektif karena terdapat pasangan kata semua dan kecuali. Kata semua bermakna tidak aa satu pun. Contoh “b” juga tidak efektif karena yang dipersilahkan untuk memberi sambutan adalah waktu dan tempat dan bukan rektor.
Kedua kalimat dapat diperbaiki sebagai berikut.
a.    Sebagian besar lulusan SMU Harapan Bangsa mengikuti UMPTN  kecuali inem, sastro dan bejo.
b.    Acara selanjutnya adalah sambutan Rektor STAIN. Bapak rektor kami persilhkan.

B.   PERSYARATAN KALIMAT EFEKTIF

Menurut Widowson (1979) tentang penggunaan bahasa, ada dua persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembentukan kalimat efektif. Kedua persyaratan kalimat tersebut adalah persyaratan kebenaran struktur dan persyaratan kecocokan konteks.
1.    Persyaratan Kebenaran Struktur
Kalimat efektif terikat pada kaidah struktur. Dengan keterikatan itu, kalimat efektif dituntut memiliki struktur yang benar. Struktur itu dapat dilihat pada hubungan antar unsur kalimat. Kalimat yang berstruktur benar adalah kalimat yang unsur-unsurnya memiliki hubungan yang jelas. Dengan hubungan fungsi yang jelas itu, makna yang terkandung di dalamnya juga jelas.

2.    Persyaratan kecocokan
Persyaratan kecocokan adalah persyaratan yang mengatur ketepatan kalimat dalam konteks. Kecocokan tidak hanya ditentukan oleh konteks kebahasaan, yakni konteks yang berupa kalimat sebelumnya tetapi juga konteks non kebahasaan.

C.   PENGEMBANGAN KALIMAT EFEKTIF

Pengembangan kalimat efektif dapat dilakukan untuk menjadikan kalimat sebagai sarana pengungkap dan penangkap pesan agar komunikasi secara efektif. Untuk mengembangkan kalimat efektif, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni persyaratan kalimat efektif dan kiat pengembangan kalimat efektif.
Ada dua persyaratan kalimat efektif, yakni persyaratan kebenaran dan persyaratan kecocokan. Persyaratan kebenaran bertolak ukur kebenaran kaidah bahasa. Persyaratan kecocokan bertolak ukur kecocokan atau kekompakan kalimat-kalimat dalam konteks kebahasaan maupun dalm konteks non bahasa. Kalimat efektif dapat dikembangkan dengan kiat-kiat khusus, yakni :
1.    Kiat pengulangan
2.    Kiat pengedepanan
3.    Kiat penyejajarnya
4.    Kiat pengaturan variasi kalimat.
Kiat pengulangan dapat dengan mudah menampilkan informasi penting dengan menampilkan ulang informasi itu, baik dalam kalimat maupun dalam untaian kalimat. Kiat pengedepanan digunakan untuk menonjolkan informasi dengan menempatkan unsur yang ditonjolkan itu di bagian depan kalimat. Kiat penyejajaran digunakan untuk menampilkan unsur kalimat dalam posisi yang sejajar. Kiat pengaturan variasi kalimat digunakan untuk menampilkan kalimat secara bervariasi, baik variasi struktur kalimat maupun variasi jenis kalimat.










FONEM DAN MORFEM

PEMBAHASAN

A.  FONEM

1.   Pengertian Fonem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti. Bunyi /a/ dan /i/ dalam bahasa Indonesia adalah fonem, karena keduanya membedakan arti. Misalnya dalam pasangan dara dan dari.[1]
Fonem ialah unit bunyi yang terkecil yang membedakan makna. Perbedaan makna ini dapat dilihat pada pasangan minimal atau pasangan terkecil perkataan. Misalnya pedang dengan petang. Dalam pasangan minimal perkataan pedang dengan petang itu terdapat bunyi yang berbeda (distingtif), yaitu bunyi d dan bunyi t. Oleh sebab perkataan pedang hampir sama, kecuali bunyi d dan bunyi t, maka dikatakan bahwa bunyi d dan bunyi t adalah bunyi yang distingtif yang membedakan makna. Oleh karena itu, bunyi d dan bunyi t adalah bertaraf fonem yang berbeda dan bunyi fonem ini diletakkan dalam kurungan fonem, yaitu / d / dan / t /.[2]

Pasangan minimal ialah pasangan terkecil perkataan, yaitu pasangan perkataan yang hampir sama dari segi sebutan dan juga cara menghasilkan bunyi perkataan tersebut tetapi masih terdapat perbedaan kecil pada bunyi (fonem) tertentu yang membedakan makna antara perkataan tersebut.[3]

Fonem-fonem diucapkan secara berangkai dan berkelompok di dalam pemakaian bahasa. Artinya, setiap fonem diucapkan secara terpisah-pisah. Kelompok fonem yang merupakan unsur sebuah kata dasar atau morferm bahasa Indonesia disebut “suku”. Dengan kata lain, struktur suku ditentukan oleh hubungan sintagmatis di antara fonem-fonemnya. [4]
Perhatikan tabel berikut   :
Kata dasar
ia
tiba
pindah
prisma
suku
i a
Ti  ba
Pin dah
Pris ma
fonem
/i/a/
/t/i/b/a/
/p/i/n/d/a/h/
/p/r/i/s/m/a/

Fonologi berbeda dari fonetik karena fonetik mempelajari bunyi-bunyi tanpa membatasi perhatiannya pada bahasa tertentu umpamanya bahasa Indonesia atau Inggris. Fonologi bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi kata-kata tertentu.[5]

2.   Fonem Suprasegmental

Fonem suprasegmental yang juga disebut fonem suprapenggalan ialah ciri atau sifat bunyi yang menindihi atau menumpangi suatu fonem. Maksudnya, ciri suprasegmental hadir bersama-sama fonem penggalan dengan cara menumpangi bunyi segmental. Fonem suprasegmental ini bukannya bunyi segmental atau bunyi penggalan, tetapi ciri yang hadir bersama dengan cara menindihi atau menumpangi bunyi penggalan.[6] Fonem suprasegmental tersebut terdiri dari:

a)  Tekanan
Tekanan ialah ciri lemah atau kerasnya suara penyebutan sesuatu suku kata. Tekanan biasanya berlaku pada suku kata dalam perkataan.
b)  Kepanjangan
Kepanjangan atau juga disebut panjang pendek bunyi merupakan ciri khusus yang terdapat pada perkataan dalam bahasa-bahasa tertentu.
c)  Jeda
Jeda yang juga disebut persendian ialah ciri atau unsur hentian (senyap) dalam ujaran sebagai tanda memisahkan unsure linguistik, iaitu perkataan, ayat atau rangkai kata.
d)  Tona
Tona merupakan naik atau turunnya suara dalam pengucapan perkataan.
e)  Intonasi
Intonasi ialah turun naik nada suara dalam pengucapan ayat atau frasa. Intonasi juga disebut sebagai lagu bahasa.
ASIL PEMBELAJARANi. menerangkan pengertian fonem suprasegmental,ii. membezakan antara tekanan,kepanjangan, jedona dan intonasi dalam binetik da
3.    Perubahan Fonem

Apabila kita menyinggung perubahan fonem dalam bidang proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia, maka ada dua hal yang perlu mendapat perhatian,[7] yaitu :

a)    Perubahan fonem /N/
1.    Fonem /N/ pada morfem meN- dan morfem peN- berubah menjadi fonem /m/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan /b,f,p/. Misalnya :
meN-               +          pilih                  è        memilih
meN-               +          foto                  è        memfoto
peN-                +          bela                 è        pembela

2.    Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi fonem /n/ kalau dasar kata yang mengikutinya berawal dengan fonem /d,s,t/. Perlu kita catat di sini bahwa fonem /s/ hanya khusus bagi sejumlah dasar kata yang berasal dari bahasa asing. Apabila kita mencoba berbicara bahasa atau dialeg asing, kemungkinan kita akan menggganti fonem-fonemnya dengan fonem-fonem yang paling mirip dalam bahasa atau dialeg kita sendiri.[8]
Misalnya :
meN-               +          daki                 è        mendaki
meN-               +          tahan               è        menahan
meN-               +          survei              è        mensurvei

3.    Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi /n/ apabila kata dasar yang mengikutinya berawal dengan /c,j,s/.
Misalnya :
meN-               +          cabut               è        mencabut
peN-                +          jaga                 è        penjaga
peN-                +          seret                è        penyeret

4.    Fonem /N/ pada {meN-} dan {peN-} berubah menjadi /ng/ apabila dasar kata yang mengikutinya berfonem /g,h,k,x/, dan vokal.
Misalnya :
meN-               +          ganti                è        mengganti
peN-                +          halang             è        penghalang
meN-               +          kecoh              è        mengecoh
meN-               +          angkat             è        mengangkat
peN-                +          edar                 è        pengedar

b)    Perubahan Fonem /r/
Fonem /r/ pada morfem {ber} dan morfem {per} berubah menjadi fonem /l/ sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan kata dasar yang berupa morfem {ajar}. Contoh
ber-            +          ajar                  è        belajar
per-            +          ajar                  è        pelajar

B.  MORFEM

1.    Pengertian Morfem
Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya {ter}, {di} dan {pensil}.[9]

2.    Pengenalan Morfem
            Prof. Ramlan mengemukakan enam perinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem.[10]
Ø Prinsip 1     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik dan arti leksikal atau arti gramatik yang sama merupakan suatu morfem.

Ø Prinsip 2     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda merupakan suatu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama, asal perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologik.

Ø Prinsip 3     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda sekalipun perbedaannya tidak dapat tidak dapat dijelaskan secara fonologik, masih dapat dianggap sebagai suatu morfem apabila mempunyai arti leksikal atau arti gramatik yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.

Ø Prinsip 4     Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu adalah morfem, ialah yang disebut morfem zero.

Ø Prinsip 5     Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda.

Ø Prinsip 6     Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem.
ü  Contoh Prinsip 1 :
a)     Membeli rumah, rumah baru, menjaga rumah, berumah, satu rumah.
Dari contoh-contoh itu dapat kita lihat bahwa satuan rumah merupakan satu morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti leksikal yang sama.
b)     Menulis, ditulis, menuliskan, dituliskan, menulisi, ditulisi, tertulis, tertuliskan, tertulisi, tulisan, penulis, penulisan, karya tulis.
Dari contoh-contoh tersebut dapat kita lihat bahwa satuan tulis merupakan suatu morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti leksikal yang sama.

ü  Contoh Prinsip 2 :
       Menjahit, membeli, menyalin, menggendong, mengecat dan melamar. Dari contoh-contoh tersebut nyata bahwa satuan-satuan men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan me-; mempunyai arti gramatik yang sama, yaitu menyatakan tindakan aktif: tetapi struktur fonologiknya jelas jelas berbeda.
Satuan-satuan men-, mem-, meny-, meng-, menge-, dan me- adalah alomorf dari morfem meN-; oleh karena itu semua satuan itu merupakan satu morfem.

ü  Contoh Prinsip 3:
            beralih,                        beradu
            berbaring,                    berbicara
            bersua,                        berjumpa
            bertemu,                      bekerja
            belajar,                        berjuang
            bersandar,                   beradu
Dari contoh-contoh tersebut terdapat satuan ber-, be-, dan bel-.
              Berdasarkan Prinsip 2, jelas bahwa ber-, dan be-, merupakan satu morfem, karena perbedaan struktur fonologiknya dapat dijelaskan secara fonologik. Tetapi bagaimana halnya dengan bel- yang (hanya) terdapat pada belajar? Walaupun bel- mempunyai struktur fonologik yangberbeda, dan perbedaanya itu tidak dapat dijelaskan secara fonologik, toh mempunyai arti gramatik yang sama dan mempunyai distribusi komplementer dengan morfem ber-.
                                      Dengan kata lain : bel- merupakan alomorf morfem ber-; oleh karena itu maka satuan bel- dapat dianggap sebagai satu morfem.
Perlu dicatat bahwa morfem bel- ini termasuk morfem yang produktif dalam bahasa Indonesia.
ü  Contoh Prinsip 4:
(1)           Ibu                   menggoreng                ikan.
(2)           Ibu                   menyapu                     halaman.
(3)           Ibu                   menjahit                      baju.
(4)           Ibu                   membeli                      telur.
(5)           Ibu                   minum                         teh.
(6)           Ibu                   makan                         pecal.
(7)           Ibu                   masak                         rendang.

Ketujuh kalimat di atas berstruktur S (ubjek) P (redikat) O (obyek). Predikatnya berupa kata verbal yang transitif. Yang pada kalimat (1), (2), (3), (4) ditandai oleh adanya meN-, sedangkan pada kalimat (5), (6), (7), kata verbal transitif itu ditandai dengan kekosongan atau tidak adanya meN-. Itulah yang disebut morfem zero.
ü  Contoh Prinsip 5:
a)            (1) Ia menanam kembang.
(2) Bunga itu telah kembang.
Pada (1) kembang ‘bunga’ dan pada (2) kembang ‘mekar’; oleh karena itu kedua kata kembang itu merupakan morfem yang berbeda walaupun mempunyai struktur fonologik yang sama. Kenapa? Karena arti leksikalnya beda.
b)            (1) Ayah sedang tidur.
(2) Tidur ayah sangat nyenyak.
Kata tidur pada (1) dan (2) mempunyai arti leksikal yang berhubungan, dan mempunyai distribusi Yang berbeda. Kedua kata tidur itu merupakan satu morfem.

ü  Contoh Prinsip 6:
a)            Berharap, harapan
Berharap terdiri dari ber- dan harap; serta harapan terdiri dari harap dan –an. Dengan demikian maka ber-, harap, dan –an masing-masing merupakan morfem sendiri-sendiri.
a.    Mendatangkan, didatangkan, mendatangi, pendatang, kedatangan, datang.
                        Dari contoh-contoh diatas :
Mendatangkan    terdiri dari tiga morfem yaitu meN-, datang, -kan
Didatangkan        terdiri dari tiga morfem yaitu di-, datang, -kan
Mendatangi          terdiri dari tiga morfem yaitu meN-, datang, -i
Pendatang           terdiri dari dua morfem yaitu peN-, datang
Kedatangan         terdiri dari dua morfem yaitu ke-an, datang
Maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa meN-, di-, peN-, datang, -kan, -i, dan ke-an merupakan morfem sendiri-sendiri.

3.    Proses Morfologis

a)    Pengertian Proses Morfologis

Proses Morfologis adalah peristiwa penggabungan morfem satu dengan morfem yang lain menjadi kata. Misalnya, kata menulis terdiri atas morfem {meN-} dan {tulis}. Penggabungan morfem {meN-} dan {tulis} menjadi kata menulis itulah yang disebut proses morfologis.[11]

b)    Ciri Suatu Kata yang Mengalami Proses Morfologis

Morfem-morfem yang membentuk atau yang menjadi unsur kata berbeda beda fungsinya. Ada yang berfungsi sebagai tempat penggabungan dan berfungsi sebagai penggabung. Berdasarkan contoh di atas, morfem {tulis} berfungsi sebagai tempat penggabungan, sedangkan morfem (meN-} berfungsi sebagai penggabung. Morfem yang sebagai tempat penggabungan biasanya disebut bentuk dasar.
Bentuk dasar dapat berupa pokok kata dilihat dari wujudnya, bahkan berupa kelompok kata. Misalnya, bentuk dasar kata menemukan, berjuang, dan perhubungan adalah pokok kata temu, juang dan hubung.
Ciri lain bahwa suatu kata dikatakan mengalami proses morfologis ialah penggabungan atau perpaduan morfem-morfem itu mengalami perubahan arti. Contohnya bentuk dasar cangkul setelah digabung morfem {meN-}, sehingga menjadi kata mencangkul, artinya menjadi ‘melakukan pekerjaan dengan alat cangkul’.[12]

c)    Macam Proses Morfologis

1)    Pembentukan kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar. Misalnya kata menulis dan pembangunan. Kata menulis terbentuk dari bentuk dasar tulis dan morfem imbuhan {meN-}, kata pembangunan terbentuk dari bentuk dasar bangun dan morfem imbuhan {peN-an}.
2)    Pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar.
Misalnya murid-murid, mencari-cari dan memukul-mukul yang terbentuk dari bentuk dasar murid, mencari dan memukul dengan morfem {ulang}.
3)    Pembentukan kata dengan menggabungkan dua atau lebih bentuk dasar. Misalnya meja hijau terbentuk dari bentuk dasar meja dan hijau.[13]

C. PENJENISAN KATA

Kata ialah kumpulan daripada bunyi ujaran yang mengandung arti. Kata dinyatakan sebagai susunan huruf-huruf abjad yang mengandung arti dan sangat jelas.[14] Contoh: ibu, mobil, ambil dan sedih.
Jenis kata ialah golongan kata yang mempunyai kesamaan bentuk, fungsi dan perilaku sintaksisnya. Dalam tatabahasa tradisional, jenis kata ini biasanya dibedakan atas sepuluh macam. Pembagian yang sepuluh ini sepenuhnya berkiblat pada pendapat Aristoteles yang berdasarkan hasil penelitiannya terhadap bahasa-bahasa Barat.[15] Sepuluh jenis kata itu adalah:
1.    Kata Benda (Nomina)
Adalah nama dari semua benda dan segala yang dibendakan.
Misalnya: Tuhan, angin, meja, rumah, batu, mesin dan lain-lainnya.
2.    Kata Kerja (Verba)
Adalah semua kata yang menyatakan perbuatan atau laku.
Misalnya: mengetik, mengutip, meraba, mandi, makan dan lain-lainnya.
3.    Kata Sifat (Adjektiva)
Adalah kata yang menyatakan sifat atau hal keadaan sebuah benda/sesuatu.
Misalnya: baru, tebal, tinggi, rendah, baik, buruk, mahal, dan sebagainya.
4.    Kata Ganti (Pronomina)
Adalah kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan.
Misalnya: ini, itu, ia, mereka, sesuatu, masing-masing.
5.    Kata Keterangan (Adverbia)
Adalah kata yang memberi keterangan tentang kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata bilangan, atau seluruh kalimat.
Misalnya: pelan-pelan, cepat, kemarin, tadi.
6.    Kata Bilangan (Numeralia)
Adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau jumlah kumpulan atau urutan tempat nama-nama benda.
Misalnya: seribu, saratus, berdua, bertiga, bebarapa, banyak.
7.    Kata Penghubung (Konjungsi)
Adalah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian kalimat, atau menghubungkan kalimat-kalimat.
Misalnya: dan, lalu, meskipun, sungguhpun, ketika, jika.
8.    Kata Depan (Preposisi)
Adalah kata yang merangkaikan kata atau bagian kalimat.
Misalnya:  di, ke, dari, daripada, kepada.
9.    Kata Sandang (Artikel)
Adalah kata yang berfungsi menentukan kata benda dan membedakan suatu kata.
Misalnya: si, sang, hyang.
10.   Kata Seru (Interjeksi)
Adalah kata (yang sebenarnya sudah menjadi kalimat) untuk mengungkapkan perasaan.
Misalnya: aduh, wah, eh, oh, astaga.




















DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M.K. Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Sandro Jaya.
Alwasilah, A. Chaedar. 1990. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Bloomfield, Leonard. 1995. Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Mahmood, Abdul Hamid. 2012. Fonetik dan Fonologi Bahasa Melayu. Malaysia: Universiti Pendidikan Sultan Idris.

Muslich, Masnur. 2008. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.
Supriyadi. 1997. Pendidikan Bahasa Indonesi 2. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.









[1] Supriyadi, Pendidikan Bahasa Indonesi 2, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1997), hal f.
[2] Abdul Hamid Mahmood,
[3] Ibid,
[4] Supriyadi,
[5] A. Chaedar Alwasilah,
[6] Abdul
[7]  Henry Guntur
[8]  Leonard Bloomfield
[9] Supriyadi,
[10]  Henry Guntur
[11]Masnur Muslich,

[12] Ibid,
[13] Ibid,
[14]M.K. Abdullah
[15] Masnur Muslich,
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com